logo logo

Berita 26-05-2024 14:15:10

Pilkada Kota Palembang, Perang 'Bintang Politik Baru'

Hal 2 dari 3 Halaman

Akhirnya, munculnya "Bintang Politik Baru" menjelang Pilkada Kota Palembang dalam konteks "political party" atau pihak partai "ngotot" dari "kader partai" maka pihak partai akan mengabaikan faktor elektoral.

Hal ini disebabkan lingkungan politik baik dari harmonisasi individu, interpersonal maupun antar lembaga legislatif, yudikatif dan eksekutif berirama dalam bingkai gelombang suara yang tidak teratur karena derasnya desakan arus perubahan dan perbaikan.

Dalam pertarungan "ajaib" ini bisa saja konstruksi politik yang akan terbangun adalah partai politik mengunci berbagai calon dalam sebuah "drama kolosal" yang berjudul "Pertarungan Elektabilitas Rendah".

Hal yang sangat memungkinkan terjadi jika fanatisme kepartaian menjadi interaksi dialogis, ideolgis dan fanatis, maka yang terjadi lebih menjanjikan dan memberikan peluang kemenangan yang sama dan merata antar calon pasangan yang diusung partai politik hari ini.

Pertama, pasangan Cawako dan Cawawako yang kemungkinan diusung oleh Gerindra, Golkar, dan PAN.

Bisa saja, nama pasangan terbut bisa saja "Prima Salam-Rasyid Rajasa” atau “Prima Salam-Asti”, atau “Hidayat- Rasyid” atau “Hidayat- Prima Salam” atau “Hidayat-Asti”, atau Rasyid-Asti.

Atau mungkin nama lainya dan partai lain yang bergabung misalnya atau sebaliknya dengan dua partai yakni Golkar-Gerindra, maka hanya akan ada nama Hidayat-Prima Salam, atau sebaliknya atau nama lainnya.

Kedua, pasangan Cawako dan Cawawako lainnya misalnya gabungan Demokrat-PPP, tentu alternatif pilihan tidak terlalu banyak, dan atau bersama PKS yang menghasilkan pasangan “Yudha-Bahar”, atau “Yudha-Syaiful” atau “Yudha-Sulaiman”, atau Yudha-Hibbani dan seterusnya.

Ketiga, pasangan Cawako dan Cawawako yang akan diusung oleh Golkar, PDI Perjuangan dan Gerindra.

Menghasilkan pasangan Prima Salam-Hidayat, RM. RM Yusuf Indra- Prima Salam, atau Prima Salam-RM Yusuf Indra, Gunhar-Hidayat, Gunhar-Asti, atau “Prima Salam-Asti”, atau “Hidayat- Rasyid” atau “Hidayat- Prima Salam” atau “Hidayat-Asti”.

Keempat, bisa saja gabungan dari PAN, PDI Perjuangan, dan atau PDI Perjungan dan Golkar.

Bisa saja pasangan Hidayat-Rasyid Rajasa, Gunhar-Hidayat, “Hidayat- Rasyid” “Hidayat-Asti”, atau Rasyid-Asti atau nama lainnya.

Kelima pasangan Cawako dan Cawawako yang merujuk koalisi nasional terkait Pilpres 2024 lalu, maka koalisi partai tersebut bisa saja terbentuk yakni Nasdem, PKS dan PKB.

Mengusung pasangan "Fitri-Bahar", atau “Bahar-Nandriani”, atau “Fitri-Syaiful Fadli”, atau “Syaiful-Nandriani”, atau “Firmansyah-Syaiful Fadli” atau “Firmansyah-Nandriani”, atau Fitri-Nadriani” dan seterusnya.

Dinamika ini masih terus bergulat dan mereka ini belum menemukan kecocokan masing-masing.

Keenam, pasangan Cawako dan Cawawako lainnya misalnya gabungan Demokrat-PPP.

Tentu alternatif pilihan tidak terlalu banyak, dan atau bersama Golkar yang menghasilkan pasangan “Yudha-Hidayat”, atau “Yudha-Asti” atau “Hidayat-Yudha, Yudha-Sulaiman” dan seterusnya.

Ringkas dari simulasi di atas bukanlah hasil survei, tetapi merupakan pengamatan atas dinamika situasi yang berkembang.

Uraian di atas intinya semua partai politik bersepakat untuk mengusung kadernya maju dalam Pilkada Kota Palembang.

Namun, keputusannya akan terlihat ketika pendaftaran 27 Agustus 2024 nanti, karena fleksibilitas partai politik untuk menjadi pemenang dalam kontestasi menjadi pertimbangan utama, yakni agar partai dalam eksis dalam lima tahun ke depan.

Pertarungan "Depolitical Party


Kelanjutannya
Pertarungan "Bintang Non Parta...

- Hal 2 dari 3 Halaman -

Baca Juga
Editor: SPH

Dapatkan update informasi pilihan dan berita terbaru setiap hari dari Mail.umbaran.com, Yuk gabung di grup Telegram "UMBARAN", caranya klik link ini : JOIN NOW, kemudian bergabung. Anda harus menginstal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel Anda.