logo logo

Berita 26-05-2024 14:15:10

Pilkada Kota Palembang, Perang 'Bintang Politik Baru'

Prediksi pengamat, dinamika di Pilkada Kota Palembang akan muncul perlawanan antara " political party" atau " depolitical party" .

Image
Afriantoni, Akademisi UIN Raden Fatah dan Pemerhati Politik. (Dok. Umbaran.com)

Oleh: Afriantoni

(Akademisi UIN Raden Fatah dan Pemerhati Politik)

UMBARAN - Membaca jelang pertarungan politik di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Palembang cukup rumit. Dinamika politiknya, masih sulit ditebak dan cukup kencang. Hal ini disebabkan muncul perlawanan antara "political party" atau "depolitical partydepolitical party" artinya mengusung kader partai politik sendiri atau bukan dari kader partai politik.

Memperhatikan dinamika yang berkembang pasca pemilihan legislatif dan pemilihan presiden 14 Februari 2024 lalu, suasana politik saat ini kemungkinan keduanya bisa saja terjadi. Mengingat peluang dari kader dan bukan kader partai politik masih terbuka lebar.

Kemunculan peluang ini karena petahana Harnojoyo tidak lagi mencalonkan diri mengingat sudah dua periode memimpin salah satu kota tertua di Indonesia ini.

Pertarungan memperebutkan pucuk pimpinan Pemerintah Kota Palembang terbuka sangat lebar dan memiliki berbagai kemungkinan.

Sebagai bentuk peluang dan pertimbangan politik, maka posisi jumlah kursi di DPRD Kota Palembang pada Pemilu 2019 menjadi tolak ukur antara lain: Partai Demokrat mendapatkan porsi terbanyak dengan 9 kursi, disusul Gerindra 8 kursi, PDI Perjuangan 7 kursi, PAN 6 kursi, PKB 6 kursi, PKS 5 kursi, Golkar 5 kursi, Nasdem 3 kursi, dan PPP 1 kursi. Kursi ini sebagai gambaran untuk dukungan politik Pilkada Kota Palembang tahun 2024 nanti.

Pada saat ini, beberapa nama saja disebut sebagai calon elektabilitas tertinggi dalam survei politik, namun tetap saja pada hakekatnya belum ada calon yang memiliki restu partai dan jumlah dukungan maksimum yang diminta KPU Kota Palembang jika menempuh jalur independent, artinya semua bakal calon memiliki peluang yang sama.

Sedangkan di sisi yang berbeda nama-nama lain terus mewarnai wacana Pilkada Kota Palembang, antara lain: Ratu Dewa, Fitrianti Agustinda, Yudha Pratomo, Baharuddin, M Hidayat, Rasyid Rajasa, Akbar Alfaro, Syofwatillah Mohzaib, Mgs. Syaiful Fadli, Prima Salam, Nandriani Octarina, Asti Rosmala Dewi, Zainal Abidin, Firmansyah Hadi, Ahmad Zulinto, Charma Afrianto, Akhmad Basyarauddin, Nasrun Umar, Yulian Gunhar, RM Yusuf Indra Kesuma, Adzanu Getar Nusantara, Zaitun, Abdul Rozak, Taufik Husni, Hernoe Roesprijadji, dan Hendra Zainuddin.

Nama-nama lain yang bakal muncul antara lain: Rio Septianda Djambak, Permana, Danu Mirwando, Saidina Ali, Muhammad Hibbani, Yulfa Cindosari, Mularis Djahri, Maphilinda Syahrial Oesman, Mawangir, Mgs. Chairil Syah, Mualimin Pardi Dahlan, Ayu Giri Ramadhan, Hensyi Fitriansyah, Ikhwansyah, Aprizal, Yan Hariranto, Fri Hartono, Aris Saputra, dan lainnya.

Semua nama-nama tersebut terus bergulat dalam situasi yang berbeda-beda.

Berkaitan dengan dinamika di atas, Aristoteles berpendapat bahwa politik adalah "master of science," yang berarti politik bukan hanya sekadar ilmu pengetahuan, tetapi juga kunci untuk memahami lingkungan.

Menurutnya, politik tidak bisa dipisahkan dari dua aspek utama, yaitu "konflik dan kerja sama”.

Hal ini tercermin dalam dinamika politik ini, mengisyaratkan mana kepentingan personal, partai, dan kebutuhan masyarakat terus bertarung dengan intens.

Oleh karena itu, pengetahuan atas situasi politik dimaknai sebuah pemahaman atas “lingkungan, konflik, dan kerja sama" sangat relevan.

Siapapun yang terjun ke dunia politik harus memahami konsep ini, karena ketiganya memerlukan pemikiran, fisik, dan mental yang kuat.

Ringkas uraian di atas dapat dikatakan bahwa peta politik di Kota Palembang sangat dinamis dan rentan perubahan-perubahan yang begitu cepat.

Pada tulisan ini akan membaca peta politik terutama mengkaji dukungan politik partai atau pertimbangan kader idelogis atau hasil kerja elektabilitas survei politik. Yang jelas, diharapkan nama-nama yang muncul diyakini mampu memenangkan pertarungan politik di Kota Palembang.

Pertarungan Elektabilitas Rendah

Salah satu argumen yang jauh dari “kebenarannya” adalah adanya “pertarungan elektabilitas rendah” sebagai langkah menutup pintu di luar kader partai.

Argumen ini merupakan sebuah keyakinan atas dasar eksitensi partai politik lebih mendorong kadernya untuk bertarung di Pilkada Kota Palembang.


Kelanjutannya
Akhirnya, munculnya "Bintang P...

- Hal 1 dari 3 Halaman -

Baca Juga
Editor: SPH

Dapatkan update informasi pilihan dan berita terbaru setiap hari dari Mail.umbaran.com, Yuk gabung di grup Telegram "UMBARAN", caranya klik link ini : JOIN NOW, kemudian bergabung. Anda harus menginstal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel Anda.