logo logo

Berita 13-07-2024 18:22:59

Komunitas Peduli Mangrove: Thomas AE Ajak Lestarikan Mangrove Demi Masa Depan Batam

Keberadaan hutan mangrove di Kepulauan Batam semakin terancam seiring dengan pesatnya pembangunan

Image
Thomas AE, tokoh pemerhati lingkungan dan hutan mangrove Batam

BATAM, UMBARAN – Keberadaan hutan mangrove di Kepulauan Batam semakin terancam seiring dengan pesatnya pembangunan. Komunitas Peduli Mangrove Batam mengajak masyarakat untuk melindungi dan melestarikan ekosistem ini demi masa depan lingkungan dan ekonomi Batam.

Thomas AE, salah satu anggota komunitas tersebut, menekankan bahwa hutan mangrove adalah anugerah Tuhan yang tidak ternilai harganya. "Hutan mangrove memiliki berbagai fungsi penting, termasuk sebagai tempat berkembang biak ikan, kepiting, dan udang, serta menjadi habitat burung. Selain itu, mangrove berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan hidup," ujar Thomas kepada media pada Selasa (9/7/2024) di kawasan Sekupang, Batam.

Menurut Thomas, pihaknya tidak menentang masuknya investasi, baik dari dalam maupun luar negeri, yang ingin mengembangkan usaha di Batam. Namun, ia mengingatkan agar dampak lingkungan tetap diperhatikan dalam setiap pembangunan. "Jika pemerintah bijak, hutan mangrove bisa dijadikan kawasan ekowisata," tambahnya.

Thomas menjelaskan bahwa mangrove berfungsi sebagai penahan abrasi dan pengikisan pantai, serta membantu mengurangi kerusakan ozon dan pemanasan global. Terutama di Batam, saat angin utara tiba, beberapa kawasan perumahan yang berhadapan langsung dengan laut lepas terdampak karena hilangnya hutan mangrove. "Kondisi hutan mangrove di Batam semakin memprihatinkan akibat tingginya minat investor yang membuka lahan di pesisir untuk perumahan, kawasan terpadu, dan ratusan industri maritim serta pelabuhan internasional dan domestik," jelasnya.

"Kami menyambut baik investasi yang membuka lapangan kerja di Batam, tapi perlu ada keseimbangan antara aspek bisnis dan lingkungan, serta keberadaan nelayan," tegas Thomas.

Sementara itu, Kepala KPHL II, Lamhot Sinaga, saat dikonfirmasi mengenai luas mangrove di Batam, menyarankan untuk mengakses data tersebut melalui Peta Mangrove Nasional yang tersedia di internet. "Untuk luas mangrove di Batam, silakan buka Peta Mangrove Nasional," ujarnya. Lamhot juga menambahkan bahwa hutan yang dilindungi di Batam masih banyak dan terjaga sesuai fungsinya.

Namun, Thomas menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian mangrove. Ia menyarankan agar pihak pemerintah menetapkan regulasi yang ketat terkait pengelolaan dan pemanfaatan hutan mangrove. Selain itu, ia berharap adanya upaya dari pengusaha untuk mengimplementasikan praktik bisnis yang ramah lingkungan.

Thomas juga menyampaikan bahwa komunitasnya aktif melakukan berbagai kegiatan edukasi dan kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya hutan mangrove. "Kami rutin mengadakan kegiatan penanaman mangrove, pembersihan pantai, serta seminar dan lokakarya tentang konservasi mangrove," ungkapnya. Ia berharap kegiatan tersebut dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk turut serta dalam upaya pelestarian mangrove.

Dalam jangka panjang, Thomas dan komunitasnya bermimpi untuk menjadikan Batam sebagai contoh sukses dalam pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan. "Kami ingin menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi bisa berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan. Ini bukan hanya untuk generasi kita, tetapi juga untuk anak cucu kita di masa depan," tutupnya dengan optimisme. **

Baca Juga
Penulis: Amrullah M
Editor: SPH

Dapatkan update informasi pilihan dan berita terbaru setiap hari dari Mail.umbaran.com, Yuk gabung di grup Telegram "UMBARAN", caranya klik link ini : JOIN NOW, kemudian bergabung. Anda harus menginstal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel Anda.